Oleh : Bintang Asni Rausyanfikr Kelas 9B –
The One That Got Away is playing . . .
(biar makin mantep bisa didenger ini lagunya, yang dicover Brielle Von Hugel)
Aku hanya menatap layar ponselku. Suara hujan yang kian menderas, lagu yang membangkitkan semua memori, itu semua sudah cukup untuk mengalirkan air mataku. Aku menarik napas, lalu menghembuskannya pelan. Aku sudah menggapai mimpi-mimpiku. Dan,
Dia sudah pergi.
Kami kian menua, dan ada waktunya kami akan melupakan satu sama lain. ‘waktu’ itu mungkin sudah tiba padanya. Tapi belum padaku.
Siapa yang bisa membayangkan bahwa orang yang pernah menemani hari-hari kita kini pergi tanpa kabar?
Hari ini aku merindukannya. Pikiranku bergerak menuju masa lalu, disaat kami masih bisa tertawa bersama, walaupun dia tidak melihatku tertawa. Rindu ini menyakitkan. Gosh, I really miss him.
Potongan-potongan memori itu bertambah jelas.
#1st Memory [The Day We First Met]
“Huft, finally, rebahan!” aku membaringkan diriku diatas kasur, kelelahan.
Sudah tidak melakukan urusan apapun, aku menyibukkan diriku dengan kegiatan pribadiku. Seperti biasa, menggulir media sosial untuk mencari seuatu yang dapat menarik perhatian.
Ah, ini dia, batinku. Aku menemukan video yang beberapa hari ini kucari.
Berbicara tentang diriku, aku hanyalah gadis biasa yang sibuk dengan sekolah dan semua lesku, tanpa memiliki keinginan serta cita-cita yang jelas. Kalian pasti pernah merasakan menjadi diriku. Tidak memikirkan apapun, tak dekat dengan siapapun, tidak ingin apapun. Kosong. Datar.
Ibuku cukup sering merasa sebal dengan diriku. Begitupun dengan diriku. Tenang, aku bukan tipe remaja yang mudah stres atau semacamnya, hanya saja, kali ini aku kosong.
Bingung terhadap masa depanmu? Kami punya solusinya! Aku tersentak kecil, kaget dengan iklan aplikasi pengatur rutinitas yang tampaknya mengutarakan isi pikiranku.
Iklannya sudah selesai. Aku menonton video tersebut, dan… ini kali pertama aku berjumpa dengannya. Walau bukan pertemuan ‘asli’. Detik demi detik kulewatkan, fokus menatap dirinya.
Pertemuan ini yang akan mengubah mindsetku, berpengaruh besar pada masa depanku.
Aku menghembuskan napas. Semuanya masih terbayang dalam pikiranku. Senyumnya, semua usahanya, air matanya, perkataannya, semuanya.
Aku telah bertemu dengannya. Seseorang yang pantang menyerah. Seseorang yang banyak tertawa, meski di belakang kami mungkin ia banyak menangis. Seseorang yang bisa menenangkanku. Seseorang yang bijak, dewasa. Seseorang yang bisa bangkit tanpa terjatuh. Seseorang yang akan aku rindukan nanti.
Dan dalam pertemuan pertama itu, aku mendapatkan banyak hal. Kenyamanan, kepositivan, kekuatan, dan
Mimpi.
Setelah bertemu dengannya, aku juga ingin memiliki mimpi untuk dicapai. Dan mimpi pertamaku adalah, menjadi dokter. Cita-cita yang dulu selalu kuutarakan tanpa ada keinginan, kini bukan sekadar harapan lagi. Ini target, mimpi, dan masa depanku.
Kini aku punya mimpi.
#2nd Memory [The Proudness He’ll Never Feel]
Senyuman manis menghiasi wajahku. Bangga. Itulah yang kurasakan sekarang. Medali tergenggam di telapak tanganku. Medali pertama yang kudapatkan sejak termotivasi olehnya.
Rasanya ingin kuteriakkan padanya, bahwa aku telah membuat diriku bangga karena dirinya. Karena termotivasi olehnya. Aku tahu, dia pasti bangga apabila tahu, apabila.
Kutatap lagi medali tersebut.
“I know he must’ve proud. Andaikan dia melihatnya…” bisikku lembut, mengingat sosok yang selama ini menguatkanku hingga aku mendapatkan medali ini.
Upaya mendapatkan medali ini memang melelahkan. Aku berlatih saat matahari terbit, dan melakukan aktivitas lain hingga matahari terbenam. Aku terus-menerus kurang memuaskan di hal yang sama, terus-menerus melakukan kesalahan yang sama. Dimarahi, dikoreksi, dan disalahi telah menjadi santapan bagi telingaku hari-hari ini.
Ada kalanya kita menjadi jenuh dengan semua itu. Yah, walaupun aku tidak jenuh, namun aku sedikit lelah. Dan setiap aku memasuki duniaku yang hanya berisi aku dan dia, rasa lelah itu hilang.
Rasanya seperti ia memelukku. Aku juga diistirahatkan dengan semua motivasi. Dan sekarang, medali ini menjadi hasil dari semua motivasinya. Aku akan menghampirinya saat aku dipenuhi oleh prestasi. Itu janjiku.
Janji pertamaku.
#3rd Memory [He Love Me No Matter What]
Kamarku gelap. Lampu kamar kumatikan lebih cepat. Orang tuaku mengira aku tidur, tapi bukan itu kenyataannya.
Aku menangis.
Aku mendapatkan nilai jelek di sekolah. Rasa malu menyelimuti jiwaku. Pikiranku terus-menerus menyalahkan diriku. Aku terlalu banyak bermain, aku terlalu banyak bercanda. Pikiranku semakin menekanku, menghakimi semua perbuatanku.
Namun sebenarnya aku tahu, ini memang salahku. Aku tidak serius saat belajar. Tapi nilai jelek bukan masalahnya. Dia lah yang kukhawatirkan.
Apakah nilaiku akan membuatnya malu? Selama memikirkan itu, aku memutuskan untuk membuka media sosial, mencari beberapa hal yang dapat menenangkanku.
“Semakin kamu berusaha cepat berjalan, semakin jauh jalannya terasa. Mulai sekarang, aku akan meminjamkan bahuku dan mencocokkan langkahku denganmu.” Astaga, perkataannya benar-benar membuatku tenang.
Benar, ia akan menerimaku apa adanya. Ia akan membantuku melangkah lebih jauh dan membuatku nyaman. Ah, aku nyaris lupa kepribadiannya. Dia seseorang yang dapat menenangkanku. Kurasa aku terlalu terobsesi dengan membanggakannya, hingga lupa bahwa ia akan bangga mau segagal apapun nilaiku.
Itu yang kami suka darinya. Dia akan mendukung langkah yang kamu ambil, tidak peduli jalan apapun itu.
Iya, aku harus berhenti menangisi kesalahanku, dan mencoba untuk membangun masa depan yang lebih indah.
The One That Got Away is playing . . .
Kepalaku bergerak, membuyarkan semua memori yang kulamunkan sedari tadi. Entah kenapa, sekarang aku sedikit lega, pun aku meneteskan air mataku sekarang.
Aku sudah sukses, berhasil meraih mimpiku, dan memiliki banyak prestasi sekarang. Aku tak tahu apa yang akan terjadi bila aku tidak bertemu dengannya. Ah, membayangkan diriku yang pemalas dan tidak punya tujuan sebelum bertemu dirinya benar-benar membuatku bersyukur.
Bersyukur menemukan dirinya, meski ia tidak akan menemukan diriku.
Aku menoleh ke jendela. Hujannya semakin deras, dengan lagu cover The One That Got Away yang menyala, itu membuatku merasa dingin seketika.
Mataku berputar menjelajahi dinding kamar. Dulu aku senang menghiasi kamarku dengan fotonya yang berbaris rapi, menutupi nyaris seluruh permukaan dinding. Sekarang tersisa dua.
Ah, aku sedikit merindukan masa mudaku. Masa-masa dimana aku ngebucin di depan layar ponsel, atau belajar ditemani dia. Lebih tepatnya, ditemani suaranya dan karyanya.
Aku sudah berhasil menjadi orang sepertinya. Yang pantang menyerah, berani mencoba, dan selalu tertawa.
[you get a notification]
Aku tersenyum. Notifikasi yang dikirim membuat ponselku menyala, menampilkan wallpaper foto dia. Bertepatan dengan menyalanya lagu ini, perasaan rindu bercampur haru ini membaik. Setidaknya memori ini masih ada, meski orang yang selama ini menjadi inspirasiku telah menghilang. Aku mengeratkan balutan selimutku, menikmati lagu yang berputar.
Thanks for all the memories.
[biodata page]
First of all, sebelum saya mencantumkan biodata, i need to ask u something. Menurut juri, cerpen ini genrenya apa?
Saya harap anda tidak berpikir bahwa ini adalah genre romansa-remaja. No, not at all!
Jadi, agar tidak ada kesalahpahaman, saya meminta waktu untuk menjabarkan inti cerita ini.
Inspiration, Dream, and Him menceritakan tentang gadis kpopers yang termotivasi dan terinspirasi sejak ia mengenal seorang idol yang pantang menyerah. Jadi ini bukan cerita romansa atau semacamnya (yah, siapa juga yang akan berpikir bahwa ini cerita romansa).
Ini yang menjadi motivasi KPOPers, yang membuat kami nyaman. Semoga cerita ini menjabarkan semua inspirasi kpopers dengan baik.





