Oleh Manikam Kelas 8B – Proyek akhir semester
Menjadi sosok yang aktif dalam banyak bidang organisasi mungkin membuat sebagian orang menutup pandangan mereka terhadap sisi positifnya. Terlalu memikirkan seberapa melelahkannya hal tersebut, ditambah dengan fakta bahwa kita tidak mendapatkan sepeser uang pun dari kegiatan tersebut. Serta timbulnya pemikiran bahwa mengikuti organisasi hanya akan membuat seseorang menjadi bodoh, karena tugas-tugas di dalam kelas yang terbengkalai dan pemikiran bahwa organisasi dipenuhi oleh orang-orang ambisius yang membosankan. Hal-hal ini membuat banyak orang menjadi malas dan berpikir bahwa berorganisasi hanya akan membuang waktu dan tenaga saja.
Akan tetapi, [FN1] pemikiran-pemikiran tersebut dapat terpatahkan jika kita memiliki tujuan sendiri. Entah itu adalah rasa ingin tahu yang tinggi, rasa ingin melatih rasa tanggung jawab dan kepercayadirian, atau bahkan sekedar keinginan untuk menjadi lebih baik pun dapat mematahkan pemikiran negative tersebut. Seperti Juana yang mulai mengikuti berbagai organisasi, demi bangkit dari masa lalunya dan ingin terus berkembang menjadi lebih baik.
Gadis yang meminta disebut sebagai Juana ini adalah seorang siswa SMPN (Sekolah Menengah Pertama Negeri) 1 Ubud, Bali. Dalam wawancara nya bersama kami, Juana bercerita bahwa masa-masa sekolah dasarnya cukup sulit dan menimbulkan luka yang cukup membekas dalam dirinya. Gadis kelahiran tahun 2008 ini berkata pernah menjadi korban pembullyan , secara fisik maupun secara verbal. Dan tidak hanya di lingkungan sekolah, di luar lingkungan sekolah pun beberapa kali ia sempat menerima perilaku yang tidak mengenakkan. Mungkin perilaku ini disebabkan karena Juana bukanlah penduduk asli dan memiliki keadaan ekonomi keluarga yang tidak begitu baik. Meskipun begitu, Juana sebenarnya merupakan anak yang berprestasi di bidang akademik dan non akademik. Hal ini bisa dilihat dari nilai-nilainya selama sekolah dasar yang hampir selalu baik dan beberapa lomba pencak silat yang telag [FN5] dimenangkan olehnya.
Lulus dari sekolah dasar, Juana sempat mengalami stress karena masalah-masalah tersebut. Sebagai jalan keluar, Juana kemudian memutuskan untuk bergabung dengan beberapa organisasi setelah masuk ke sekolah menengah pertama. Ia mengatakan, alasan pertama adalah mungkin saja jika ia mulai berorganisasi, dirinya akan terhindar dari perlakuan yang tidak mengenakkan dan akan mendapat kemampuan bersosialisasi yang lebih baik. Keinginannya untuk berorganisasi kemudian diperkuat dengan rasa penasaran dan rasa ingin percaya diri serta rasa ingin mandiri yang cukup besar. Berbekal tekad, keyakinan, dan doa, Juana pun memulai langkahnya untuk berorganisasi dengan mendaftarkan diri kepada organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas). Juana mengaku, ia tidak menyiapkan begitu banyak hal saat mengikuti tes penerimaan anggota. Namun syukurlah, nasib baik berpihak kepada Juana. Ia diterima sebagai anggota MPK.
Selama ia bergabung dengan MPK, Juana berkata memiliki kendala dalam bersosialisasi kepada sesama anggota, sehingga cukup sulit untuk bekerja sama sebagai tim. Tapi, Juana merasa memiliki tanggung jawab atas apa yang telah dipilihnya dan membuatnya mau tidak mau menjadi lebih terbuka demi menjaga keutuhan organisasi. Juana juga mengeluh kesulitan saat diminta untuk merevisi suatu hal atau membuat suatu event secara mendadak karena keterbatasan anggota. Tapi karena alasan ini juga lah ia merasa lebih produktif karena perannya sebagai koordinator yang harus bisa membimbing anggotanya untuk bekerja dalam waktu seefisien mungkin. Selain MPK, Juana juga telah bergabung dengan organisasi Pramuka, serta mengikuti kegiatan ekstrakurikuler video orchestra dan teater. Kegiatannya pada Pramuka dan ekstrakurikuler tidak kalah sibuknya dengan kegiatannya pada MPK. Di luar lingkungan sekolah, Juana juga berlatih pencak silat untuk melatih tubuhnya supaya kuat melindungi dirinya sendiri.
Walaupun sibuk dan beberapa kali mengeluh karena terdapat kendala, Juana mengaku merasa senang telah bergabung dengan organisasi-organisasi ini. Ia merasa dirinya telah jauh lebih baik daripada dirinya di masa sekolah dasar dulu. Ia juga mulai bisa menyebarkan energi positif yang dirasakan nya, ke lingkungan sekitarnya.
Jadwalnya yang semakin padat, membuat Juana sedikit demi sedikit mulai melupakan kenangan buruknya semasa sekolah dasar. Kini, ia lebih fokus dalam menyeimbangkan kegiatan-kegiatan sampingan dan kegiatan sekolanya. Karakternya yang semula tertutup, perlahan mulai terbuka walau hanya kepada beberapa orang tertentu saja. Diiringi dengan lingkungan yang membaik, serta teman-teman yang positif, bukan tidak mungkin luka masa lalunya akan tertutup sepenuhnya.
Dari kisah Juana, kita bisa mengambil hikmah bahwa apapun yang terjadi pada kalian di masa lalu, itu tidak menghalangi kalian untuk melakukan sesuatu di masa depan. Yang terpenting adalah percaya, pasti ada jalan keluar dari setiap masalah yang dimiliki. Dan jangan hanya terpaku pada kesalahan serta kenangan buruk. Kita perlu bergerak maju, membuktikan kepada dunia bahwa kita lebih hebat dari yang dunia pikirkan. “Dicoba dulu sajalah, berhasil atau tidaknya bisa dipikir belakangan,” ujar Juana.
Di akhir wawancara, Juana berharap, ke depannya akan ada lebih banyak orang-orang baik, sehingga orang-orang yang menderita trauma sepertinya bisa berkurang dan dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik.





